Lingkungan Hidup

Pesona Ponelo di Gorontalo Tercemar Sampah Plastik

Gorontalo – Desa Ponelo di Kecamatan Ponelo Kepulauan Kabupaten Gorontalo Utara dikenal sebagai destinasi wisata unggulan di Provinsi Gorontalo. Akan tetapi, persoalan sampah plastik dan rusaknya ekosistem terumbu karang kini mengancam desa ini terutama di wilayah pesisir pantainya.

Sampah plastik dan ragam sampah lainnya seperti kayu bekas, styrofoam, botol dan gelas plastik, popok bayi hingga sampah rumah tangga menjadi pemandangan buruk wisata bahari Desa Ponelo. Sampah-sampah yang mengepung daerah pesisir tersebut bukan hanya dihasilkan oleh masyarakat setempat tetapi juga para wisatawan yang datang dan sampah darat. Tumpukan sampah tersebar hingga ujung kampung.

Desa Ponelo pernah beroleh bantuan pengolahan sampah dari pemerintah daerah pada akhir 2018 lalu. Namun, bantuan tersebut hingga saat ini belum bisa dioptimalkan.

Kepala Desa Ponelo Rotansi Lamandara mengakui, bantuan itu belum efektif karena sumber daya manusia yang terbatas. Masyarakat juga belum memiliki pengetahuan memilah atau mendaur ulang sampah plastik. “Untuk sementara bantuan sebatas penyediaan fasilitas, seperti dua armada pengangkut sampah,” kata Rotansi, dikutip dari mongabay.co.id, Jumat (29/3/2019).

Dikatakannya, untuk musim angin timur sampah-sampah banyak datang dibawa angin dan ombak. Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Angin timur mungkin sampai April atau Mei. Saya berharap, persoalan ini ada solusi,” ucapnya.

Dalam laporan Pemantauan Sampah Laut Indonesia Tahun 2017, Direktorat Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Pesisir dan Laut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dijelaskan, menurut perkiraan para ahli, 80 persen sampah laut berasal dari daratan yang disebabkan kurangnya pengolahan limbah padat.

Sedangkan sumber sampah dari lautan berasal dari kapal, jaring ikan yang tidak terpakai dan bencana alam (tsunami). Sementara sekira 70 persen sampah laut yang berat seperti logam dan peralatan lainnya mengendap. Sisanya sampah yang lebih ringan mengapung seperti plastik.

Selain dihantui persoalan sampah, Desa Ponelo juga tengah dihadapkan rusaknya terumbu karang sebagai ekosistem penting desa ini. Aktivitas yang dahulu sering dilakukan warga seperti pengeboman ikan, penggunaan bahan potasium dan penambangan karang untuk bahan pembangunan rumah adalah pemicu utama rusaknya ekosistem terumbu karang. Meski cara-cara demikian sudah lama ditinggalkan tetapi dampaknya masih terasa hingga saat ini. Jadinya, nelayan kian jauh mencari ikan.

Dalam penelitian skripsinya, Akbar Habibie dari Institut Pertanian Bogor (IPB) telah melakukan pemetaan ekosistem terumbu karang dengan metode OBIA (Object Based Image Analysis) dan valuasi nilai ekonominya di perairan laut Desa Ponelo tahun 2018. Akbar melakukan pengamatan visual di gugusan karang perairan pantai Desa Ponelo pada kedalaman 1-6 meter.

Seturut penelitiannya, pemetaan habitat dasar perairan laut menghasilkan lima kelas habitat yaitu karang hidup 56,81 Ha, karang mati 90,57 Ha, padang lamun 18,08 Ha, pasir 82,5 Ha dan rubble 6,3 Ha. Hasil kalkulasinya menunjukkan, nilai ekonomi total diperoleh dari terumbu karang sebesar Rp 144.850.924.637 per tahun atau Rp 569.696.077 per hektare per tahun.

Sementara dari data rehabilitasi terumbu karang Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo, pada 2007 telah dilakukan rehabilitasi dengan membuat terumbu karang buatan sebanyak 90 unit di Kecamatan Ponelo Kepulauan. Kemudian sebanyak 60 unit di Pulau Mohinggito pada tahun 2013.

Lukman Ramadan (Author)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *