Lingkungan Hidup

Peneliti Ungkap Pergerakan Sampah di Laut

Jakarta – Sampah sudah menjadi permasalahan global dan menjadi perhatian dunia internasional. Misalnya keberadaan sampah plastik di laut yang terus meningkat setiap tahunnya. Peneliti mengungkap bagaimana pergerakan sampah hingga bisa menyebar di lautan dan samudera.

Ketua Laboratorium Data Laut dan Pesisir Pusat Riset Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Dr. Ing. Widodo S. Pranowo menanggapi kondisi sampah di laut saat ini.

Sebal, kecewa, sedih beraduk jadi satu. Problem global saat ini yang krusial dihadapi manusia di bumi adalah sampah plastik dan perubahan iklim laut,” ucap Widodo, Selasa (23/4/2019).

Dikutip dari detik.com, Widodo mengatakan, sampah plastik di laut terdiri dari berbagai macam baik kualitas maupun bahan. Dari macam sampah tersebut ada yang cepat terdegradasi menjadi mikroplastik dan ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Bahkan, kata dia, ada material sampah yang bisa terdegradasi lebih dari 100 tahun.

Samudera Pasifik menjadi salah satu samudera dengan sampah plastik terbesar di bumi. Rupanya sampah mikroplastik membuat densitas massa air samudera tersebut menjadi lebih kental karena sarat larutan mikroplastik. Bisa jadi massa air Samudera Pasifik tersebut tertransportasi menuju samudera dan laut lainnya. Kemungkinan lainnya, mikroplastik berkeliling terbawa aliran arus ke seluruh samudera dan lautan di bumi.

Aliran massa air global tersebut sering disebut sebagai The Conveyor Belt Global Current atau dikenal sebagai Atlantic Meridinal Overturning Current (AMOC) sehingga bisa saja mikroplastik dari seluruh lautan dan samudera suatu saat bisa saling bertemu berkumpul satu sama lain,” kata Widodo menjelaskan.

Dikatakannya, AMOC adalah aliran arus laut dari area tropis yang lebih hangat ke utara. Sampah mikroplastik tersebut dimungkinkan terbawa aliran arus di kolom air permukaan. Lalu bisa saja teralirkan ke lapisan kolom massa air yang lebih dalam sesuai dengan lintasan The Conveyor Belt Global Current tersebut.

Kesempatan mikroplastik terbawa masuk ke kolom air yang lebih dalam bisa saja terjadi. Misalnya, ada aliran massa air yang mengandung larutan mikroplastik dalam jumlah yang sangat masif mengalir di permukaan menuju Samudera Atlantik. Kemudian aliran tersebut terbawa ke arah utara mendekati kawasan perairan kutub utara,” kata Widodo memaparkan.

Karena massa air menjadi dingin, maka secara natural densitasnya akan menjadi lebih berat. Densitas tersebut bertambah berat dengan penambahan mikroplastik terlarut tadi. Massa air tersebut akan tenggelam dan mengalir di kolom bawah permukaan, tentunya bersama mikroplastik di dalamnya,” kata dia melanjutkan pemaparannya.

Seturut sejumlah penelitian, penyebaran sampah mikroplastik di lautan bisa berdampak bagi kehidupan biota dan manusia. Mikroplastik yang terakumulasi di tubuh ikan kemudian dikonsumsi manusia akan mengakibatkan efek samping seperti kanker. Bahkan, mikroplastik yang terdegradasi ke ukuran yang lebih kecil menjadi nanoplastik, jika terkonsumsi hewan atau manusia bisa berdampak pada mutasi gen.

Lukman Ramadan (Author)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *