Lingkungan Hidup

Miss Lynn, Pejuang Konservasi di Gorontalo

Pengajar Pada Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan IPB

Apabila menyebut babirusa dan Hutan Nantu di Gorontalo, maka yang akan muncul pertama adalah nama Dr. Lynn Marion Clayton. Karena dia adalah peneliti dan pelestari babirusa in-situ yang dikenal dunia. Dia lulus doktor dari Oxford University pada tahun 1996, berkebangsaan Inggris, yang penelitian disertasinya adalah mengenai bio-ekologi dan konservasi babirusa di Hutan Nantu, Gorontalo.

Di daerah Gorontalo dan Sulawesi Utara, Dr. Lynn Marion Clayton lebih dikenal dengan nama Miss Lynn. Karena itu penulis juga akan menyebutnya Miss Lynn. Kisah perjuangan Miss Lynn dalam mempertahankan keberadaan Hutan Nantu dan memperjuangkannya menjadi kawasan konservasi demi melestarikan babirusa dan banyak satwa endemik Sulawesi menjadi inspirasi untuk para pegiat konservasi.

Dia memulai penelitian ekologi babirusa serta penyadartahuan masyarakat akan pentingnya melestarikan hutan dan biodiversitasnya (environmental awareness) sejak 1989 sampai saat ini. Sudah lebih tiga puluh tahun Miss Lynn melakukan kegiatan konservasi di Hutan Nantu dan sekitarnya serta di wilayah Sulawesi Utara. Dia juga berupaya agar masyarakat tidak melakukan perburuan dan perdagangan ilegal satwa dilindungi di wilayah Sulawesi Utara dengan bekerjasama dengan aparat dan masyarakat setempat serta upaya pendidikan lingkungan di sekolah-sekolah dasar serta penduduk di sekitar Hutan Nantu.

Kawasan hutan Suaka Margasatwa Nantu pada awalnya merupakan gabungan dari beberapa kawasan hutan dengan status yang berbeda. Sampai dengan awal 1990-an, kawasan Hutan Nantu berupa hutan lindung (13.500 hektar), hutan produksi terbatas (14.830 hektar), hutan produksi (1.695 hektar), dan hutan produksi yang dapat dikonversi (1.190 hektar). Kemudian Miss Lynn bersama dengan teman-teman yang peduli konservasi (Abdul Haris Mustari-IPB, Daniel Walter Sinaga-PHKA, Ike Muttaqin-APHI, Zainuddin-Seksi BKSDA Gorontalo, dan beberapa teman lain) pada Maret 1993 mengunjungi Hutan Nantu untuk mengumpulkan data dasar ekologi dan studi kelayakan kemungkinan hutan tersebut menjadi kawasan konservasi.

Keterlibatan APHI, yang waktu itu diketuai oleh Bob Hasan, karena lebih dari setengah luas kawasan Hutan Nantu merupakan konsesi dari beberapa HPH. Pada tahun-tahun berikutnya, dalam periode 1993–1998, dilalui dengan perjuangan bersama dengan para pengambil keputusan, mengadakan workshop, seminar, presentasi, audiensi dengan Gubernur, Bupati dan anggota DPRD Gorontalo dalam memperjuangkan Hutan Nantu menjadi kawasan konservasi.

Pada tahun 1999, akhirnya Menteri Kehutanan berdasarkan SK Nomor 573/Kpts-II/1999 tanggal 22 Juli 1999, menetapkan Hutan Nantu yang terletak di hulu Sungai Paguyaman tersebut menjadi Suaka Margasatwa Nantu seluas 31 215 hektar. Pada tahun 2010, berdasarkan SK Nomor 325/Menhut-II/2010, luas tersebut bertambah sehingga menjadi 51.507,3 hektar yaitu dengan dimasukkannya kawasan Hutan Lindung Gunung Boliyohuto sebagai satu kesatuan pengelolaan sehingga namanya menjadi SM Nantu-Boliyohuto. Saat ini ada usulan untuk meningkatkan statusnya menjadi taman nasional.

Zoo keeper dan peneliti dari Inggris, Amerika, Jerman dan beberapa negara mengunjungi Suaka Margasatwa Nantu-Boliyohuto, untuk melihat langsung anoa dan babirusa serta banyak satwa endemik Sulawesi di hutan serta sesapan (salt-lick) Adudu, Nantu. (Foto: Dok. Abdul Haris Mustari).
Camp Adudu

Pada awal 1990-an, perjalanan ke Hutan Nantu tidaklah mudah seperti saat ini. Perjalanan dilakukan dengan kendaraan roda empat atau dua dari kota Gorontalo ke Desa Mohiolo yang terletak di sisi hilir Sungai Paguyaman dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan naik perahu kayu yang disebut ketinting yang dapat memuat 3 orang ke arah hulu Sungai Paguyaman. Perjalanan dilakukan melawan arus deras dimana beberapa kali penumpang harus turun dari perahu karena air dangkal dan perahu kandas.

Perjalanan naik perahu ke arah hulu untuk sampai di Camp Adudu dari Desa Mohiolo diperlukan waktu sekitar 8-9 jam. Camp Adudu adalah stasiun penelitian yang didirikan oleh Miss Lynn, letaknya di tepi Sungai Paguyaman, sekitar 500 meter dari mata air panas yang mengandung garam-garam mineral di blok hutan Adudu. Ini adalah tempat terbaik untuk mengamati satwa-satwa endemik Sulawesi terutama babirusa dan anoa.

Pada awal 1990-an Camp Adudu hanyalah berupa pondok sederhana, lebih tepat disebut gubuk. Saat ini berkat usaha dan kerja keras Miss Lynn, pondok tersebut sudah berubah menjadi Stasiun Penelitian yang cukup nyaman untuk ditinggali para peneliti yang ingin mengungkap keanekaragaman hayati SM Nantu-Boliyohuto.

Hutan Nantu adalah lokasi terbaik untuk melihat berbagai jenis satwa endemik Sulawesi di habitat aslinya khususnya babirusa dan anoa di blok hutan Adudu yang merupakan bagian dari SM Nantu-Boliyohuto dimana terdapat air garam tempat mengasin (salt-lick) satwa, kaya mineral, mengandung sulfur dan terdapat sumber air panas yang sering dikunjungi satwa.

Selain babirusa dan anoa, di hutan itu juga terdapat satwa endemik lainnya diantaranya kuskus beruang sulawesi, kuskus kerdil sulawesi, musang sulawesi, tarsius, monyet hitam sulawesi, burung gosong, rangkong sulawesi, kangkareng sulawesi, dan burung paruh bengkok. Sebelum ditetapkan sebagai kawasan konservasi, Hutan Nantu merupakan kawasan berburu para pemburu ilegal dengan target babirusa, babi hutan, anoa dan monyet hitam sulawesi.

Zulaikha Yulianti (Author)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *